Motivasi Andrie Wongso (Kebaikan Mendatangkan Kebaikan)

Motivasi Andrie Wongso (Kebaikan Mendatangkan Kebaikan) 



"Orang yang berbuat jahat, walau bencana belum tiba, tetapi
rezeki telah menjauhinya.
Orang yang berbuat baik, walau rezeki belum tiba,tetapi
bencana telah menjauhinya.
Kata-kata mutiara / pepatah di atas sungguh bijak dan saya sangat menyukainya.

Mari kita membiasakan diri melakukan perbuatan-perbuatan baik setiap hari; sekecil apa pun perbuatan itu!
Sesungguhnya orang yang berbuat baik adalah orang yang benar-benar beruntung hidupnya.



DUA Hal Penting Bagi Pemenang:
1. Mampu memikirkan apa yang tidak dilakukan pesaing!
2. Mampu melakukan sesuatu yang tidak dilakukan oleh pesaing!

Friends Berikut Video yang menggugah hati dan pikiran dari Pak Andrie Wongso





Salam sukses Luar Biasa!
*) Share and be Happy! Dengan berbagi, tentu kita akan mendapat kebahagiaan.



Sumber

www.andriewongso.com

https://www.youtube.com/user/awmotivation/videos






0 komentar:

data foto


data foto



Jembatan Ampera di Sungai Musi bagian 1






Jembatan Ampera di Sungai Musi bagian 2







Jembatan Ampera di Sungai Musi bagian 3






Jembatan Ampera di Sungai Musi dan rumah rumah penduduk di pinggir Sungai Musi





pasar 16 di dekat pinggir Sungai Musi





Doctor Share Rumah Sakit Apung bagian 1







Doctor Share Rumah Sakit Apung bagian 2











0 komentar:

Foto Suasana dan Kegiatan Sekitar



0 komentar:

Pengalaman Berkekurangan Dan Berkelebihan



6 Juli 2015
Oleh: dr. Lie A. Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV

23 Juni 2015, kami sampai di Desa Gagemba setelah menempuh jalan darat sejauh 25 kilometer dari Sugapa, ibukota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua.

Gagemba adalah sebuah desa yang sangat terpencil, bahkan boleh dikatakan terisolir. Desa ini bahkan belum pernah dikunjungi oleh tenaga kesehatan sejak kemerdekaan Indonesia.

Kami menginap semalam di dalam gereja, di atas bangku-bangku kebaktian umat. Masyarakat Gagemba sudah memberikan yang terbaik dan yang terbaik itu adalah kita tidur di atas bangku gereja yang beralaskan papan dan banner. Masyarakat sendiri tidur di atas honai yang saat itu sedang penuh sesak dengan bara api di dalamnya karena banyak warga desa lain menginap.



Kami melakukan pelayanan medis pada keesokan harinya (24 Juni 2015) di halaman gereja.

Pelayanan yang sudah ditunggu-tunggu sekian puluh tahun lalu oleh masyarakat diungkapkan oleh pendeta gereja. “Doa kita dikabulkan oleh Tuhan pada hari ini.” Ratusan umat berdatangan dari berbagai desa di lereng gunung dan menerima pengobatan dan operasi.

Setelah pelayanan medis selesai pada sore harinya, sekitar pukul 16.45 WIT, saya mengajak anggota kami sendiri, Sylvie Tanaga untuk keluar sebentar melihat keadaan sekeliling. Saudara Junaedi, anggota tim lapangan mau ikut, namun saya menolaknya karena ia sedang berpuasa. Saya tak ingin dia sampai terlambat berbuka.

Perjalanan yang kami rencanakan hanya akan berlangsung belasan menit hingga paling lama 30 menit, ternyata berlanjut menjadi “petualangan” dalam kegelapan dan medan sulit di hutan pegunungan tengah di Papua. Kami menuruni jalan setapak ke arah kiri.

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit dan menikmati keindahan alam yang cantik permai, kami berjumpa dengan seorang bapak yang sedang memikul batang pohon. Saya coba mengutarakan bahwa kami tersesat dan meminta panduan pulang.

Bapak ini serta merta menaruh kedua batang pohon yang dipikulnya, lalu mengantar kami menuruni lereng gunung yang terjal, gelap dan licin ke sebuah kampung. Di kampung ini, kami mengunjungi dua honai (rumah) orang Papua asli.

Honai pertama adalah honai untuk perempuan dan honai kedua hanya untuk lelaki. Di dalam kesulitan, ide-ide “genial” (kata sifat dari genius) selalu lahir. Kami berusaha menjelaskan bahwa kami adalah tim dokter yang menginap di gereja dan melakukan pelayanan medis.

Empat orang bapak bersedia mengantar kami ke rumah (honai) bapak pendeta. Ternyata di honai hanya ada adik pendeta dan bersedia mengantar kami ke tujuan.

Naik turun lereng gunung lagi dalam kegelapan, kaki saya mulai protes dan kurang setuju namun perintah dari pikiran waras harus dituruti. Dengan beberapa kali jeda untuk menambah kadar oksigen dalam darah, akhirnya hati saya bersorak ketika mendengar suara teriakan pertama dari lembah yang segera saya sahuti dengan teriakan membahana.

Tidak lama kemudian, tampaklah remang-remang api unggun yang segera menjadi lebih nyata dan anggota-anggota tim yang sama gembiranya karena kami berdua telah selamat kembali.

Ketika saatnya istirahat malam, saya merenungkan peribahasa yang mengatakan bahwa kami tidak dapat membeli segala-galanya.

Batasan kemiskinan yang mendefinisikan bahwa mereka yang tak sanggup membelanjakan 2 dollar AS per hari adalah orang miskin, tidak berlaku bagi kami saat itu. Di kantung saya ada Rp 2.000.000 atau setara 150 dollar AS ternyata tidak dapat membawa kami kembali.

Di saat kami kelelahan, kedinginan, dan was-was akan bagaimanakah caranya kami pulang, terpikirkan betapa enaknya kalau saja kami bisa memesan sebuah taksi atau menyetop bajaj ataupun ojek entah ojek motor ataupun sepeda.

Walaupun punya telepon genggam, tanpa signal kami tak mungkin berkomunikasi dengan siapapun apalagi memesan taksi yang juga tidak tersedia. Jangankan taksi, ojek pun tak ada. Bagaimana menyediakan sarana transportasi, kalau prasarananya pun belum ada.

Pengalaman singkat saya telah menambah kesadaran akan “lingkaran setan” yang dihadapi oleh orang Papua yang hidup di pegunungan. Di titik mana lingkaran ini harus diputus? Tidak mengherankan jika masyarakat menyambut kehadiran kami dengan antusias dan penuh harapan.

* * *

sumber
http://www.doctorshare.org/index.php/news/2015/07/06/152/dr-lie-dharmawan-quot-pengalaman-berkekurangan-dan-berkelebihan-quot.html

https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765?fref=photo



,

0 komentar:

Mengamati Dan Belajar



7 Juli 2015
Oleh: dr. Lie A. Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV

Ini adalah kunjungan saya ketiga kalinya ke Kabupaten Intan Jaya, Papua yang baru dimekarkan sejak tahun 2008 dan terdiri dari 8 distrik. Ibukota Kabupaten Intan Jaya adalah Sugapa.

Kabupaten ini terletak di pegunungan tengah dan hanya dapat dicapai dengan pesawat perintis yang mendarat di Sugapa. Landasan pesawat sepanjang 600 meter adalah satu-satunya ruas jalan beraspal di seluruh kabupaten.

Kabupaten Intan Jaya terletak pada ketinggian kurang lebih 2.000 meter di atas permukaan laut. Sugapa terletak pada altitude kurang lebih 2.200 meter di atas permukaan laut. Tidak heran udara di sini sangat dingin. Pagi hari temperatur bisa berada di bawah 10 derajat Celcius. Angin sangat dingin.

Air yang digunakan penduduk untuk MCK adalah air tadah hujan atau kadang air sungai. AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) sangat mahal. Sebotol air mineral 330 ml dihargai Rp 25.000. Sebungkus mie instan Rp 5.000, satu liter bensin Rp 50.000. Ini terjadi karena satu-satunya akses mencapai Sugapa hanya dengan pesawat perintis yang hanya dapat membawa 850 kg barang sekali terbang.

Tiket pesawat pun tidak murah. Dari Nabire atau Timika, seorang penumpang harus membayar sekitar Rp 2.750.000 untuk waktu tempuh sekitar satu jam. Sebaliknya, dari Sugapa ke Nabire atau Timika, Anda harus membayar sekitar Rp 1.750.000 agar bisa terbang.

Di Sugapa terdapat sebuah puskesmas dengan tiga dokter umum dan seorang dokter gigi. Untuk mendapatkan pelayanan di puskesmas ini, pasien dari desa-desa sekitar ada yang harus berjalan kaki beberapa jam atau bahkan beberapa hari.

Transportasi darat hanya mengandalkan ojek sepeda motor yang biasanya diawaki oleh pendatang dari Sulawesi Selatan. Untuk jarak tempuh sekitar 25 kilometer, misalnya antara Sugapa-Gagemba, seorang penumpang harus merogoh kocek Rp 300.000 sekali jalan. Itu pun di beberapa ruas jalan penumpang harus turun dan berjalan kaki. Jarak 25 kilometer pun ditempuh dalam dua jam.

Antusiasme masyarakat untuk berobat ke manapun kami pergi selalu besar. Logis.

Dalam pelayanan medis, kami selalu membagi-bagikan obat cacing untuk anak dan vitamin untuk orang dewasa/anak-anak. Operasi minor kami lakukan. Kami pun memberikan penyuluhan, biasanya PHBS (Perilaku Hidup Bersih dan Sehat).

Pengalaman kami menunjukkan bahwa hampir tidak ada anak SD yang mempunyai sikat gigi di rumah. Dari 110 anak SD yang kami survei, hanya seorang yang punya sikat gigi. Kami pun membagi-bagikan sikat gigi dan odol agar mereka pergunakan di rumah.

Kami pun berpesan kepada kepala sekolah agar anak-anak ini diwajibkan untuk sikat gigi di rumah setiap hari dua kali. Akankah mereka ikuti? Mengubah kebiasaan itu susah namun kita harus memulainya.

Menggunakan alas kaki pun bukan merupakan kebiasaan bagi penduduk di pegunungan ini. Bukan hanya murid sekolah, tapi juga orang dewasa. Saya bahkan bertemu beberapa sarjana lulusan Jawa dan Sulawesi yang setelah kembali ke kampung halamannya kembali tidak mengenakan alas kaki.

Mandi merupakan hal yang jarang dilakukan karena sulitnya mendapatkan air dan dinginnya udara.

Walaupun kami baru melakukan dua kali pelayanan medis di pegunungan tengah Papua namun beberapa kesimpulan awal sudah dapat ditarik.

Berbeda dengan pelayanan ke banyak pulau-pulau kecil dan desa-desa/kampung-kampung di pesisir Papua yang kami lakukan dengan Rumah Sakit Apung doctorSHARE, pelayanan di pegunungan dengan proyek Dokter Terbang doctorSHARE lebih sulit.

Perekonomian penduduk di pesisir relatif lebih baik dibandingkan saudara kita yang hidup di pegunungan. Banyak warga pendatang dari berbagai pelosok tanah air hidup di pesisir Papua. Kota-kota besar yang rata-rata berada di tepi pantai tidak berbeda dengan kota-kota besar yang dapat kita jumpai di bagian barat Indonesia seperti Jayapura, Timika, Sorong, dan lain-lain.

Perekonomian mereka yang hidup di pegunungan sulit “didongkrak” karena infrastruktur yang teramat jelek seperti jalan yang belum tersedia atau dalam kondisi memprihatinkan.

Walaupun secara geografis Desa Gagemba (misalnya) adalah daerah yang subur, namun hasil bercocok tanam yang mereka hasilkan seperti keladi, kol, dan markisa tak dapat dijual ke daerah lain karena sulit dan mahalnya ongkos transportasi. Apa yang mereka hasilkan hanya untuk konsumsi keluarga sendiri.

Prasarana lainnya seperti air bersih, listrik, apalagi internet tidak tersedia sama sekali.

Tidak heran, beberapa sarjana yang sempat kami temui masih menganggur tanpa pekerjaan. Walaupun pengalaman kami di daerah-daerah tertentu belum banyak, pengamatan yang kami lakukan menghasilkan beberapa pemikiran.

1.       Prasarana jalan harus diadakan, setidaknya diperbaiki
Walaupun jalan belum beraspal namun sebenarnya dapat dilalui kendaraan tradisional seperti gerobak sapi. Bagaimana mungkin jarak 25 kilometer harus ditempuh dua jam dengan ojek sepeda motor? Di beberapa ruas jalan, penumpang bahkan harus turun dan berjalan kaki. Bayangkan kalau itu seorang pasien atau ibu hamil yang akan melahirkan. Selain itu, ongkosnya terbilang mahal yakni Rp 300.000/orang.

2.       Ketersediaan air harus ada
Bukannya tak ada air, tapi perlu dipikirkan bagaimana menghadirkannya ke honai-honai (rumah-rumah penduduk) agar tenaga medis tidak hanya menganjurkan mandi dan sikat gigi. Setidak-tidaknya untuk beberapa honai ada MCK yang memenuhi standar minimum.

3.       Modifikasi honai demi kesehatan
Saya sudah beberapa kali masuk honai, baik honai Suku Moni maupun Suku Dani. Honai mereka pendek-pendek tanpa ventilasi. Di tengah honai dipasang perapian untuk memasak sekaligus mengusir hawa dingin. Saya tidak tahan berada di dalamnya walau hanya lima menit. Mata perih, nafas sesak. Tak heran, banyak penduduk sakit mata dan ISPA.

Jalan keluar harus dicarikan.

Salah satu cara yang dapat ditempuh misalnya adalah dengan membuat sebuah tungku mirip fire place dengan cerobong keluar atap rumah.

Kami berkesimpulan bahwa perbaikan kesehatan masyarakat di daerah terisolasi harus dilakukan secara bersamaan oleh seluruh stakeholders pembangunan.

* * *


sumber
http://www.doctorshare.org/index.php/news/2015/07/06/153/mengamati-dan-belajar.html

0 komentar:

Guru yang Perlu Ditiru, Tetap Mengajar Meski Murid Cuma Satu



Citizen6, China Tingkat migrasi yang tinggi di Cina ternyata tak selamanya membawa dampak positif. Banyaknya orang yang pindah, ternyata memengaruhi dunia pendidikan di Cina sana. Banyak sekolah yang terpaksa tutup karena kekurangan siswa dan kekurangan tenaga pengajar.

Meski demikian, selalu ada seseorang yang tetap bertahan di tengah ketidakpastian. Guo Zuqin adalah seorang pengajar di SD Budaixi di kota Xuan'en. Tak seperti sekolah kebanyakan, ia hanya mempunyai satu orang murid. Murid tersebut berusia 6 tahun dan bernama Tan Xianzi.


Dilansir dari Shanghaiist, Selasa (07/07/2015), selain hanya memiliki satu orang murid, Zuqin juga hanya seorang diri mengajar di sekolah tersebut. Ia mengajar Aritmatika serta bahasa Cina. Sekolah yang telah berumur 60 tahun ini banyak kehilangan murid karena migrasi yang tinggi serta letaknya yang cukup jauh di kaki bukit pegunungan Provinsi Hubei, Cina Tengah.

Walaupun hanya seorang diri, Zuqin tetap semangat mengajar satu-satunya murid yang ia punya. Selain menjadi guru, ia juga menjadi teman bermain Xianzi saat waktu istirahat tiba. Ia bahkan tetap menyemangati Xianzi yang mulai ragu dengan nasibnya di semester berikutnya.

Kisah Zunqi mengingatkan kita akan cerita Laskar Pelangi. Tak jauh berbeda, sekolah di dalam novel tersebut nyaris ditutup karena kekurangan murid. (sul/kw)


sumber
http://citizen6.liputan6.com/read/2266952/guru-yang-perlu-ditiru-tetap-mengajar-meski-murid-cuma-satu?utm_source=FB&utm_medium=Post&utm_campaign=FBcitizen6

.

0 komentar:

Tips Aman Naik Taksi agar selamat di Perjalanan



Jakarta, CNN Indonesia -- Maraknya aksi perampokan di taksi telah meresahkan para pemakai jasanya.
Jika taksi, angkutan yang tergolong lebih mahal dan seharusnya lebih memberikan jaminan keamanan saja
sudah tak aman lagi, bagaimana dengan transportasi massa publik?

Kaum perempuan, terutama, kerap menjadi sasaran kejahatan di taksi.
Itu sebabnya penting bagi para pemakai jasa taksi untuk berhati-hati saat hendak menggunakan jasa taksi.
Head of Marketing Communication Grab Taxi Indonesia Kiki Rizki mengatakan bahwa penting untuk
mengampanyekan keamanan di taksi, mulai dari memilih taksi dan berperilaku di taksi secara aman.

Untuk meminimalkan kejahatan di taksi, Rizki menyampaikan tips aman saat berada di dalam kendaraan umum tersebut.

Saran Rizki, sebaiknya tidak menyetop taksi di jalan. Terutama saat malam hari.
“Lebih enak kalau kita bisa tracking taksinya. Apalagi sekarang sudah canggih,
GPS bisa menunjukkan lokasi dengan presisi. Bisa share identitas taksinya,”
kata Rizki saat ditemui di Bebek Bengil, The Ubud Building, Jakarta, seperti ditulis Kamis (22/1).



Duduklah menyilang dari posisi supir, agar bisa tetap mengecek pandangan ke supir.
Para karyawan yang pulang larut malam, kerap memakai jasa taksi karena dianggap lebih aman.
Saat tubuh sudah merasa sangat kelelahan, tak jarang kita tertidur di taksi.

“Ketiduran di taksi apalagi sendirian di taksi sangat berbahaya.
Jika ingin tidur bawalah teman,” kata Rizki menyarankan.

Untuk merangkumnya, berikut ini adalah 10 tips cara aman di taksi:

1. Pastikan identitas pengemudi sesuai dengan sopir yang mengemudi.

2. Pastikan tidak ada orang lain di dalam mobil. Agar lebih aman sebaiknya Anda mengecek bagasi.
Sebab, ada beberapa kejadian kriminal di mana perampok keluar dari bagasi taksi.

3. Jika Anda sakit, tertidur, atau dalam pengaruh alkohol, pastikan jangan sampai ada waktu tidak berdaya
di dalam taksi saat Anda sendirian. Pastikan ada teman yang bersama Anda, terutama di malam hari.

4. Bila ada yang ingin berbagi taksi di perjalanan, hiraukan saja.
Tak peduli cantik atau ganteng ataupun ibu-ibu yang membuat Anda merasa kasihan.
Lebih baik, beri saja taksi untuk orang tersebut.

5. Duduklah di sisi berlawanan dengan sopir agar bisa melihat gerak-gerik supir.

6. Pastikan argo menyala. Jika pengemudi bilang tidak ingin pakai argo lebih baik Anda turun.

7. Bila ada teknologi dengan fitur yang dapat memberitahukan lokasi Anda kepada teman atau
keluarga kirim pesan agar ada orang lain yang menjaga Anda dalam perjalanan.

8. Jangan matikan telepon. Pastikan telepon menyala dan siapkan speed dial orang-orang terdekat atau
nomor gawat darurat.

9. Pastikan kaca taksi tertutup karena bisa saja terjadi penjambretan.

10. Hentikan taksi jika keadaan darurat dan ikuti rute Anda sendiri. (chs/chs)


Tambahan
a. Selain waspada terhadap taksi yang Anda naiki,
waspada juga terhadapa sekeliling Anda. Pastikan pintu taksi sudah terkunci sehingga
tidak ada orang luar yang tiba-tiba membuka pintu dari luar.

b. Hafalkan atau catat nopol taksi, no lambung taksi dan identitas diri pengemudi taksi tersebut serta jam keberangkatan Anda dan juga lokasi keberangkatan serta tujuan Anda. serta apabila diperlukan sms kepada
teman, saudara, atau keluarga dimana anda sekarang.

c. Anda juga bisa mem-posting data tersebut di akun social Anda (seperti twitter) dengan mention perusahaan tersebut.

d. Jika Anda masih merasa kurang nyaman, Anda bisa meminta salah seorang yang Anda percaya (Keluarga, Orang Tua, Pasangan, Teman) untuk tetap saling berhubungan di handphone. Seperti bertukar pesan (sms, whatsapp, line, dll) atau tetap berinteraksi di social media
.
e. Anda dapat juga melakukan cek keadaan taksi seperti bagasi taksi, di belakang kursi, apakah ada orang bersembunyi atau sesuatu yang mencurigakan.

f. Siapkan botol parfum didalam tas, untuk berjaga jaga menyelamatkan diri,
jika anda dalam keadaan darurat atau terdesak, untuk membuat perih mata pelaku kejahatan.


sumber
http://www.cnnindonesia.com/gaya-hidup/20150122082852-269-26430/tips-aman-naik-taksi-agar-tak-jadi-korban-kejahatan

http://tipsindonesia.com/11-tips-aman-naik-taksi/

http://kataorang.net/tips-aman-naik-taksi/

dll,
.

0 komentar:

Doktrin Bob Sadino, orang goblok lebih sukses dari yang pintar



Karena goblok, orang menjadi sulit mendapat pekerjaan dan dia terpaksa membangun usahanya sendiri.
Saat bisnisnya berkembang, dia mempekerjakan orang pintar.

- Bambang Mustari Sadino
Merdeka.com - Nama Bob Sadino sudah tidak asing lagi di Indonesia.
Tidak hanya di kalangan pengusaha, tapi juga di kelompok anak muda yang terinspirasi kisah suksesnya menjadi pengusaha.

Bob Sadino tidak hanya dikenal karena ciri khas celana pendek dan penampilannya yang jauh dari kesan pengusaha sukses,
 tapi juga doktrin-doktrinnya yang menginspirasi pengusaha muda serta wiraswata.

Doktrin Bob Sadino soal orang goblok yang menjadi sukses dan mempekerjakan orang-orang pintar, menyebar luas.
Menurut Bob Sadino, goblok adalah sikap dasar kalau mau belajar menjadi seorang pengusaha dan wiraswasta.
 Orang goblok juga bisa menjadi sukses.

Menurut Om Bob, karena goblok, orang menjadi sulit mendapat pekerjaan dan dia terpaksa membangun usahanya sendiri.
Saat bisnisnya berkembang, dia mempekerjakan orang pintar.

Doktrin lain, masih soal orang goblok dan orang pintar, Om Bob menyebut orang pintar kebanyakan ide dan
akhirnya tidak ada satu pun yang jadi kenyataan. Orang goblok cuma punya satu ide dan itu jadi kenyataan.
Dia juga pernah menyebut orang goblok sukses karena dia tidak banyak berpikir, yang penting terus melangkah.
Sedangkan orang pintar kebanyakan mikir, akibatnya tidak pernah melangkah.

Topik pilihan: Kisah Inspiratif | Inspirasi Wirausaha

Doktrin dan pemikiran sederhana Om Bob soal membangun kesuksesan tanpa bermodal kepandaian, terbukti
menginspirasi banyak pengusaha muda. Hal itu diamini CEO Saratoga Grup Sandiaga Uno.

"Just do it. Nyemplung dan langsung berenang," kata Sandiaga saat berbincang dengan merdeka.com, Senin (19/1).

Sandiaga punya pengalaman berkesan dan membekas dengan om Bob dan pemikirannya yang sederhana itu.
Dia menceritakan, saat itu dia bersama-sama dengan Bob Sadino berkeliling dan menjadi pembicara
di depan mahasiswa di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Sandiaga diledek Bob Sadino karena terlalu banyak mikir.
 Padahal, kata Om Bob, untuk menjadi seorang pengusaha tidak perlu banyak berpikir.

"Om Bob bilang, jadi pengusaha jangan terlalu banyak mikir dan analisa kayak Sandi (sandiaga Uno).
Kalau Om Bob pakai analisa tidak akan jadi Kemchick," kenang Sandiaga.

Menurutnya, dengan pemikiran sederhana Om Bob soal kesuksesan menjadi pengusaha dengan
tidak banyak berpikir dan analisa, menginspirasi pengusaha-pengusaha muda.
"Akhirnya kita terpacu untuk cepat mengambil keputusan," tambah Sandiaga.




sumber
http://www.merdeka.com/uang/doktrin-bob-sadino-orang-goblok-lebih-sukses-dari-yang-pintar.html

0 komentar:

Petuah-petuah 'gila' warisan Bob Sadino



Merdeka.com - Pengusaha Bambang Mustari Sadino alias Bob Sadino tutup usia pada 19 Januari 2015.
Pria kelahiran Lampung, 9 Maret 1939 itu sudah dua pekan dirawat di Rumah Sakit Pondok Indah,
Jakarta Selatan, akibat komplikasi penyakit.

Om Bob pun meninggalkan dua putri dan empat cucu. Semasa hidupnya,
banyak kisah dan prestasi ditorehkan oleh pengusaha satu ini.
Jenazahnya saat ini disemayamkan di rumah duka di Jalan P&K Nomor 2121,
Pondok Cabe, Cirendeu Lebak Bulus, dan bakal dikuburkan besok siang.

Bob Sadino dikenal sebagai pengusaha nyentrik. Bukan hanya dari segi busana,
yang kemana-mana selalu tak bisa lepas dari celana pendeknya.
Tetapi juga wejangan dan petuah liar soal motivasi bergelut di dalam bisnis.
Bahkan lantaran pemikirannya itu, banyak orang mencap Bob tidak waras.

Berikut ini adalah kumpulan pesan-pesan dan nasihat Om Bob buat menyemangati orang-orang supaya memulai berusaha,
dan meneguhkan niat para pengusaha supaya tak mudah menyerah.

"Jangan terlalu banyak ide": Orang pintar biasanya banyak ide, bahkan mungkin telalu banyak ide,
sehingga tidak satupun yang menjadi kenyataan. Sedangkan orang bodoh mungkin hanya punya satu ide dan
satu itulah yang menjadi pilihan usahanya.

"Miskin keberanian untuk memulai": Orang bodoh biasanya lebih berani dibanding orang pintar, kenapa ?
Karena orang bodoh sering tidak berpikir panjang atau banyak pertimbangan. Dia nothing to lose. Sebaliknya,
orang pintar telalu banyak pertimbangan.

"Ilmu tidak terbatas": Ilmu memang berserakan dimana-mana diseluruh muka bumi ini,
jauh lebih banyak dibanding yang ada dalam gedung sekolah atau kampus.
Bahkan seekor ayam pun bisa memberikan ilmu [dan inspirasi] yang sangat berharga

"Mempekerjakan, bukan melamar pekerjaan": Orang bodoh sulit mendapat pekerjaan sehingga
dia terpaksa buka usaha sendiri. Dalam perjalanan bisnisnya agar semakin sukses dia harus merekrut orang pintar.
Alhasil orang bodoh tadi jadi bosnya orang-orang pintar.

"Jika ingin bahagia, jangan jadi karyawan."

"Bisnis Itu Hanya Modal Dengkul. Bahkan jika Anda tidak punya dengkul, pinjam dengkul orang lain."

"Setinggi-tingginya gaji, Anda tetap karyawan. Sekecil-kecilnya usaha, Anda adalah bosnya."




sumber
http://www.merdeka.com/peristiwa/petuah-petuah-gila-warisan-bob-sadino.html

0 komentar:

Ini rahasia mengapa BJ Habibie bisa sukses



Merdeka.com - Sejak berumur lima tahun silam,
Bacharuddin Jusuf Habibie kerap terpesona jika melihat karya manusia.
Entah itu alat transportasi seperti sepeda, mobil, sampai prasarana transportasi seperti jembatan dan sebagainya.
Diam-diam dalam benaknya selalu bertanya-tanya mengapa, sebab, dan bagaimana bisa terjadi.
Pertanyaan itu terus meneror kesadarannya, hingga mendorong dirinya menjadi manusia dengan
rasa keingintahuan yang tinggi.

Dia kerap bertanya tentang apapun di luar sepengetahuannya.
Kepada siapa pun di dekatnya, dia selalu bertanya.
Hingga tiba saat ayahnya mulai bosan pada hobi bertanya Habibie.
Akhirnya ayahnya membelikan buku. Dari sanalah jawaban atas berbagai pertanyaan dijelajahinya.

Namun pertanyaan-pertanyaan akhirnya berkembang menjadi kompleks dan meningkat jumlahnya.
Sehingga kebiasaan saya bertanya sudah sampai pada tingkat mengganggu kesibukan orang tua dan guru saya,
kenang BJ Habibie seperti dikutip dari buku Biografi Bacharuddin Jusuf Habibie;
Dari Ilmuwan ke Negarawan sampao Minandito, A Makmur Makka.

BJ Habibie terpaksa mencari sendiri jawabannya dalam buku.
Kebiasaan yang demikian menjadikan saya sebagai kutu buku.
Akibatnya dia sering menghabiskan waktu untuk menyendiri untuk terus beranalisis, tak berhenti berpikir.

Untuk mendapatkan jawaban yang memuaskan, saya selalu didampingi oleh guru pribadi yang setia,
yaitu otak saya! Ibu, ayah, keluarga, guru sekolah, guru besar di universitas, para ilmuwan, dan
sebagainya saya anggap sebagai pembantu guru pribadi saya saja, ucapnya.

Bukan hanya kebiasaan bertanya, Habibie berani konsisten dalam memanajemen waktunya.
Dia hanya membutuhkan waktu untuk tidur sebanyak lima jam saja.
Sedangkan waktunya dua jam dipergunakan untuk salat. Satu setengah jam untuk rutinitas membaca Yasin dan Tahlil.
Kemudian dua jam untuk berenang dan mandi. Sedangkan tiga jam dihabiskan untuk makan.
Tiga jam lainnya ia manfaatkan untuk berbincang dengan para tamunya.
Sehingga sisanya sebanyak tujuh setengah jam, dipergunakannya untuk membaca atau menulis.

Selain itu, BJ Habibie selalu mengingatkan bahwa kekuatan rantai ditentukan oleh keunggulan mata rantai terlemah.
Kesimpulannya ialah, kualitas suatu produk ditentukan oleh mutu tiap detail.
Sebab kualitas karya dan kualitas kerja ditentukan oleh kualitas rinci.
Maka dari itu berpikirlah secara rinci dan positif.
Di sisi lain BJ Habibie selalu ingin menjadi pribadi kreatif dan inovatif.



sumber
http://www.merdeka.com/peristiwa/ini-rahasia-mengapa-bj-habibie-bisa-sukses.html

0 komentar:

Kakek 86 tahun ikuti tes masuk universitas walau 15 kali ditolak



Merdeka.com - Kakek berumur 86 tahun asal Nanjing, China,
bernama Wang Xia sudah 15 kali ikut ujian masuk perguruan tinggi.
Kakek yang lulus SMA pada 1949 ini tidak pernah menyerah walau
berkali-kali gagal tes ujian nasional masuk universitas di Negeri Tirai Bambu alias Gaokao.

Xia pertama kali ikut gaokao pada 1954, namun sayangnya tidak lulus.
Kemudian dia mencoba lagi pada 1955, 1956, dan 1960.

Dilansir dari Shangahiist, Rabu (10/6), setelah melakukan empat kali tes,
dia kemudian mencoba bekerja sebagai apoteker.
Gaokao sempat mengalami penghentian akibat Revolusi Kebudayaan di China pada 1966 hingga 1976.
Ketika dibuka kembali pada 1977, Gaokao hanya ditujukan bagi peserta yang belum menikah maksimal 25 tahun.

Pada 2001 setelah revolusi kebudayaan tersebut selesai,
kakek Wang mencoba kembali keberuntungannya menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.

"Pada 2002, setelah saya gagal mengikuti gaokao,
saya kemudian mendapat tawaran dari Universitas Keperawatan Nanjing untuk
dapat belajar selama lima tahun di sana," ujarnya.



Sayangnya, dia tidak mendapat tempat pertama di sekolah tersebut, sehingga dia gagal mendapatkan gelar diplomanya.

"Hampir 40 tahun saya bekerja sebagai apoteker,
namun sayang sekali susah untuk mendapatkan gelar diploma di bidang itu
dengan kemampuan medis yang saya miliki," cerita dia.

Xia mengatakan untuk gaokao tahun ini, dia sudah mempersiapkan segalanya termasuk belajar untuk
dapat lulus dari tes tersebut.

Perjuangan Xia bukan satu-satunya di China. Pada Desember 2014,
seorang pria 73 tahun berhasil lulus ujian masuk perguruan tinggi di Haining, Provinsi Zhejiang.
Pria tak disebutkan namanya itu akhirnya berhasil masuk kuliah sejak 40 tahun dia masuk pertama kali di universitas.



sumber
http://www.merdeka.com/dunia/kakek-86-tahun-kembali-ikut-masuk-universitas-walau-15-kali-ditolak.html


,

0 komentar:

Jack Ma tak bahagia jadi orang terkaya di China




Merdeka.com - Salah satu orang terkaya di China,
Jack Ma mengaku tidak bahagia dengan hidupnya yang bergelimang harta.
Dia mengatakan menjadi orang terkaya di negaranya adalah sebuah 'sakit besar' karena banyaknya tekanan yang datang.

"Saya tidak senang dan saya pikir terlalu banyak tekanan.
Namun, saya mencoba membuat diri saya bahagia karena saya tahu bahwa jika saya tidak bahagia maka rekan saya juga tidak akan bahagia,
dan pemegang saham juga tidak senang. Sehingga pelanggan tidak senang," ucap Jack Ma dilansir dari CNBC di Jakarta, Kamis (11/6).

Dia mengakui, IPO atau penjualan saham perusahaannya yaitu Alibaba dengan rekor nilai mencapai USD 25 miliar ikut menyumbang ketidakbahagian
dan membuat stress dalam hidupnya.

"Mungkin penjualan saham terlalu tinggi dan mungkin orang memiliki harapan yang tinggi pada saya.
Mungkin saya terlalu banyak berpikir tentang masa depan dan terlalu banyak hal yang saya khawatirkan.
Tapi saya harus bertanggung jawab untuk tenang dan menjadi diri sendiri," katanya.

Ma mengakui, tekanan hidupnya bertambah ketika dia dinobatkan sebagai orang terkaya nomor wahid di China beberapa waktu lalu.
Hal ini menambah tekanan dan membuat dirinya 'sakit'.

"Ketika orang mengatakan jadi orang kaya itu baik, ya itu memang baik. Namun, ketika Anda jadi orang terkaya di China atau
di dunia itu adalah kesakitan. Semua orang sekitar Anda akan bicara mengenai uang," tambahnya.

Selain itu, Ma mengatakan ketika dia berjalan orang akan melihatnya berbeda yaitu sebagai pengusaha sukses.
Orang akan berpendapat kalau dia adalah pengusaha yang bersenang-senang dengan dirinya sendiri. "Saya ingin jadi diri saya sendiri," tambahnya.

Untuk mengobati rasa sakitnya, Ma mencari cara untuk menggunakan uangnya agar memberi manfaat kepada masyarakat. Dia akan beramal,
karena menurutnya membelanjakan uang jauh lebih sulit dibanding mendapatkannya. Ma mengatakan,
dia berencana akan mendirikan sebuah yayasan yang dapat menghabiskan uang dengan cara bisnis.

"Mungkin seperti persaingan saya dengan Bill Gates, siapa yang bisa menghabiskan uang untuk amal dengan lebih baik."



sumber
http://www.merdeka.com/uang/jack-ma-tak-bahagia-jadi-orang-terkaya-di-china.html


0 komentar:

Universitas di China 'jual' lulusan terbaik secara online


Merdeka.com - Rektor Universitas Kunming, China memiliki cara ampuh untuk membantu lulusannya mencari pekerjaan.
Para mahasiswa pintar dari perguruan tinggi tersebut dijual di situs online baru
buatan rektor tersebut, Taobao agar mendapat pekerjaan.

Untuk perusahaan yang tertarik mengambil salah satu mahasiswa universitas tersebut,
harus membayar uang muka sebesar 1.000 Yuan (setara Rp 2,1 juta). Uang tersebut digunakan untuk
membuat kontrak dengan mahasiswa pintar tersebut.

He Hua (39) yang merupakan rektor termuda di China tersebut berharap apa yang dia lakukan ini dapat
membantu mahasiswanya mendapatkan karir yang diinginkan.



"Saya harap langkah ini dapat membantu mahasiswa saya dari masalah pengangguran,"
ungkapnya seperti dikutip dari surat kabar Daily Mail, Jumat (3/7).

Sebanyak 65 lulusan terbaik di sekolahnya 'dijual' dalam situs jual beli online tersebut.
Dia berpikir banyak yang akan mencari pegawai baru dari situs online tersebut.

Peluncuran situs jual beli itu sekalian dengan upacara kelulusan 4.500 mahasiswa Universitas Kunming.
Ke-65 mahasiswa yang paling menonjol tersebut menempelkan foto mereka di sebuah papan besar sebagai
tanda mereka siap mencari pekerjaan untuk kehidupan masa datang.




sumber
http://www.merdeka.com/dunia/universitas-di-china-jual-lulusan-terbaik-secara-online.html


.

0 komentar:

Jangan kaget, gaji bos Toyota di tahun 2014



Merdeka.com - Presiden Toyota Motor Corp, Akio Toyoda untuk tahun fiskal 2014 benar-benar menakjubkan.
Sebuah laporan yang baru diturunkan pada 24 Juni 2015 lalu mengungkapkan segalanya.

Dari lansiran The Asahi Shimbun (25/6), Akio Toyoda menerima bayaran 352 juta Yen atau
setara dengan Rp 37,9 miliar. Ini adalah kali pertama Toyoda menerima bayaran setinggi ini sejak
awal masa jabatannya di tahun 2009 lalu.

Tak hanya itu, angka tersebut meningkat sebesar 122 juta Yen dari tahun sebelumnya
untuk keturunan dari keluarga pendiri pembuat mobil.

Berdasarkan laporan yang dikeluarkan oleh perusahaan, gaji Toyoda yang sangat tinggi ini melonjak karena
bonusnya terkait kinerja perusahaan hampir dua kali lipat.
Toyota sendiri mencatat laba bersih untuk tahun fiskal 2014 sebesar 2,1 triliun Yen,
itu pun dipengaruhi melemahnya nilai tukar Yen untuk Dollar.


sumber

http://www.merdeka.com/otomotif/jangan-kaget-ini-gaji-bos-toyota-di-tahun-2014.html


,

0 komentar:

Lima Cara Mengurangi Risiko Diabetes



Lima Cara Mengurangi Risiko Diabetes



Diabetes adalah jenis penyakit yang tidak bisa dianggap remeh, karena jika tidak dijaga dengan baik, ia bisa memicu terjadinya penyakit berbahaya lainnya seperti gangguan jantung, gangguan ginjal, disfungsi ereksi bahkan kanker. Selain dipicu faktor keturunan, diabetes mellitus juga erat kaitannya dengan gaya hidup penderitanya. Contohnya adalah malas berolahraga dan tidak menerapkan pola makan yang sehat. Seringkali, diabetes lambat terdeteksi sehingga seringkali penyakit sudah terlanjur parah.

Diabetes dibagi menjadi tiga bagian. Diabetes tipe 1, terjadi saat sistem kekebalan tubuh yang seharusnya berfungsi melawan bakteri dan virus berbahaya, justru menyerang dan menghancurkan insulin yang memproduksi sel-sel pankreas. Hal ini menjadikan jumlah insulin berkurang dan kadar gula dalam darah meningkat.

Pada diabetes tipe 2, insulin masih dapat diproduksi, namun jumlahnya tidak mencukupi atau tidak dapat digunakan dengan baik oleh tubuh. Kondisi ini disebut juga insulin resistan. Hal inilah menjadikan kadar gula dalam darah naik.

Yang ketiga ialah diabetes kehamilan. Selama masa kehamilan, plasenta memproduksi hormon tertentu. Hormon ini membuat sel-sel tubuh melawan insulin.

Kunci dalam pencegahan dan penanganan diabetes adalah dengan mengontrol asupan makanan kita, di samping rutin melakukan olahraga dan rutin mengecek kadar gula. Berikut beberapa cara sederhana untuk mencegah diabetes:


1. Olahraga.
Lakukan olahraga selama minimal setengah jam setiap hari, lima kali dalam seminggu. Olahraga dapat membantu menormalkan kadar gula darah dan menjaga berat badan.

2. Konsumsi beras merah.
Selain kaya akan serat, beras merah juga bisa mengurangi kerusakan pada pembuluh darah. Jadi Anda boleh mulai mengganti nasi putih dengan nasi merah. Memang banyak yang bilang rasa beras merah tidak seenak nasi putih, tapi demi kesehatan, tidak ada salahnya mencoba, kan?

3. Perbanyak konsumsi vitamin C.
Beberapa sumber dari vitamin C alami adalah brokoli, jeruk, dan stroberi. Jika dirasa kurang, barulah Anda bisa mengonsumsi suplemen tambahan. Konsultasikan lebih dulu dengan dokter mengenai dosis yang tepat bagi Anda.

4. Bumbu masak alami.

Sekitar dua puluh empat bumbu masak ternyata kaya akan antioksidan yang mampu mencegah peradangan yang juga terkait dengan penyakit diabetes. Antioksidan yang tertinggi ada pada kayu manis dan cengkeh.

5. Pilih makanan yang sehat.

Konsumsi makanan yang rendah lemak dan rendah kalori. Makanan yang kaya akan serat bisa membantu mengontrol kadar gula darah.

Istirahat yang cukup, mengelola stress dengan baik, dan segera berhenti merokok juga bisa membantu Anda agar terhindar dari diabetes.



Stephanie Firdaus
Review oleh dr. Adhiatma Gunawan
www.meetdoctor.com



Sumber :  http://id.she.yahoo.com/lima-cara-mengurangi-risiko-diabetes.html

0 komentar:

Rumah Sakit Apung kedua doctorSHARE


Press Release - The Launching of RSA Nusa Waluya I (June 1st, 2015)



2 June 2015
(JAKARTA) doctorSHARE and EKADHARMA launched RSA Nusa Waluya I,
Indonesia’s 2nd privately operated floating hospital, on June 1st, 2015.
Upon launch, the hospital will immediately participate as part of the Ekspedisi Nusantara Jaya event.
The launch will take place at the Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil), Jalan Raya Pelabuhan Pos 9,
Tanjung Priok, North Jakarta.

RSA Nusa Waluya I is a joint collaboration between doctorSHARE and EKADHARMA.
Modeled after doctorSHARE’s first floating hospital, RSA dr. Lie Dharmawan,
it will be used to bring healthcare to those living in areas with little to no healthcare facility.
Its route will focus on underdeveloped areas, national border regions, and remote or isolated islands.

doctorSHARE’s first floating hospital, RSA dr. Lie Dharmawan, is a simple wooden ship.
It served as a prototype to gauge the potential benefit such floating hospitals can bring to areas with
poor healthcare infrastructure. Despite its simplicity and limitation,
RSA dr. Lie Dharmawan managed to help over 10,000 patients, and deliver over 500 surgeries,
within just two years of its operation.

The Indonesian government plans to adopt the floating hospital model to help serve those in
remote areas without adequate healthcare facility. However, the blueprint needed to govern the
system of floating hospitals/clinics does not yet exist.

The presence of a floating hospital network can be part of the solution to
the unique healthcare problem faced by Indonesia, an archipelago of over 17,000 islands.
This is what motivates doctorSHARE to pioneer the practice of floating medical services.

The launch of RSA Nusa Waluya I, the 2nd such floating hospital,
is a proof of doctorSHARE’s commitment to improve the floating medical service system.
In addition, the hospital will be used to pioneer a pilot project that tests a
new system on a few islands and/or villages with limited healthcare access.

This system seeks to actively involve local residents to identify local cases,
 such as: malnutrition, high-risk pregnancies, etc.
In collaboration with local governement health offices,
this data will then be used to evaluate the effectiveness of healthcare reach to local communities.

This pilot project will serve as a blue print, for referral and evaluation by Indonesia’s Ministry of Health,
to improve island based medical services. This can later be scaled for
adoption at the regency or province level, specifically by administrative areas where
a large number of the population resides in remote islands.

Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 emphasizes “connectivity in frontier, remote, and border area islands”,
which is in line with doctorSHARE’s focus on providing healthcare access to those in remote areas.
This similar vision makes this event the perfect venue to launch RSA Nusa Waluya I.

RSA Nusa Waluya I inaugurated by the vice President of Indonesia, Drs. H.M. Jusuf Kalla,
attended by dr. Lie Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV, the founder of doctorSHARE I.
RSA Nusa Waluya I is a gift from doctorSHARE and EKADHARMA as part of our contribution
towards the fulfillment of a healthy Indonesia. (***)


RSA Nusa Waluya I Profile

Name                                                        :  Nusa Waluya I
Owner                                                        :  EKADHARMA
Length                                                         :  42 meter
Width                                                          :  6.5 meter
Draft                                                           :  2.5 meter
Gross Tonnage (GT)                                   :  210 ton
Net Tonnage (NT)                                       :  63 ton
Year Built                                                   :  1977
Main Movement Source                            :  Engine
Main Engine                                                :  GM Detroit Diesel 2 x 395 PS
Marking                                                      :  GT.210.NO.1844/Ka
Body Material                                             :  Steel
Propeller                                                     :  2 units
Main Fuel Tank Capacity                           :  11 ton
Backup Fuel Tank Capacity                       :  500 liter
Water Tank Capacity                                 :  10 ton


RSA Nusa Waluya I Facilities

·        10 beds for inpatient treatment
·        Emergency Room
·        Radiology
·        EKG (elektrokardiogram)
·        USG (ultrasonografi)
·         Laboratory
·         Resuscitation Room
·         Consultation Room
·         Surgery Facility
·         Post-surgery Room
·         Dental Clinic
·         Pre-surgery Doctor’s Room
·         Doctor’s room
·         Medical Storage
·         Logistic Storage
·         Archive Room


About doctorSHARE
doctorSHARE is a humanitarian non-profit with a medical focus.
Founded on November 19th, 2009, its vision is to “save lives and alleviate the suffering of
those trapped in crises, in order to restore their ability to fully function and
contribute in society.” doctorSHARE’s programs include Therapeutic Feeding Centers on
Kei island (Southeast Maluku), floating hospitals, health guidance,
general health check-ups, humanitarian aids, etc



Siaran Pers Peluncuran RSA Nusa Waluya I (1 Juni 2015)

Peluncuran RSA Nusa Waluya I Dalam Ajang Ekspedisi Nusantara Jaya 2015



(JAKARTA) Pada 1 Juni 2015, doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) dan Yayasan EKADHARMA akan meluncurkan Rumah Sakit Apung (RSA) dengan
nama RSA Nusa Waluya I. Peluncuran RSA Nusa Waluya I dilakukan bersamaan dengan pelaksanaan Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 yang
digelar di Komando Lintas Laut Militer (Kolinlamil),
Jalan Raya Pelabuhan Pos 9, Tanjung Priok, Jakarta Utara.
RSA Nusa Waluya I merupakan program kerjasama antara doctorSHARE dan Yayasan EKADHARMA.
RSA Nusa Waluya I mengikuti jejak RSA pertama (RSA dr. Lie Dharmawan) dalam melakukan aksi jemput bola kepada
masyarakat yang membutuhkan, terutama mereka yang hidup di daerah tertinggal, perbatasan, dan kepulauan (DTPK) tanpa/minim fasilitas kesehatan.

Rumah Sakit Apung pertama doctorSHARE yaitu RSA dr. Lie Dharmawan adalah contoh pertama bahwa sebuah kapal kayu sederhana dapat
menolong penduduk di pulau-pulau tanpa/minim fasilitas kesehatan. Di tengah kesederhanaan dan keterbatasannya,
RSA dr. Lie Dharmawan sudah melayani lebih dari 10.000 penduduk di wilayah terpencil
termasuk 500 operasi mayor dan minor dalam rentang waktu dua tahun pelayarannya.

Sistem Rumah Sakit Bergerak yang telah diterapkan pemerintah Indonesia menjadi salah satu upaya menjangkau masyarakat di wilayah terpencil
tanpa akses kesehatan. Namun demikian, Indonesia belum memiliki cetak biru resmi tentang sistem Pelayanan Medis/Klinik/Rumah Sakit Terapung.

Kehadiran Sistem Pelayanan Medis Terapung bisa menjadi jawaban bagi permasalahan kesehatan di wilayah Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 kepulauan.
 Inilah yang memotivasi doctorSHARE merintis dan mempraktikkan pelayanan medis terapung.

Peluncuran RSA Nusa Waluya I yang merupakan RSA kedua ini adalah wujud nyata doctorSHARE dalam menyempurnakan sistem Pelayanan Medis
Bergerak Terapung dengan menjalankan program percontohan melalui penerapan sistem ini di wilayah kepulauan dan
mengadopsi beberapa desa tanpa/minim fasilitas/tenaga kesehatan.

Bekerjasama dengan Dinas Kesehatan setempat untuk mengevaluasi tingkat efektifitas dan penjangkauan kepada masyarakat,
sistem ini akan melibatkan secara aktif peran masyarakat dalam melaporkan dan mendeteksi kasus-kasus lokal,
misalnya gizi buruk, kehamilan berisiko, dan lain-lain.

Target percontohan ini menjadi cetak biru yang dapat menjadi rujukan dan bahan evaluasi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dalam
menyempurnakan sistem pelayanan medis wilayah kepulauan yang kemudian bisa diadopsi oleh provinsi dan kabupaten yang
sebagian besar penduduknya tinggal di pulau-pulau terpencil.

Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 menjadi momentum yang tepat untuk meluncurkan RSA Nusa Waluya I karena kesamaan visinya dengan doctorSHARE.
Ekspedisi Nusantara Jaya 2015 menekankan upaya “konektivitas di pulau-pulau terdepan, terpencil dan wilayah perbatasan”,
serupa dengan doctorSHARE yang berfokus pada penyediaan akses kesehatan bagi warga di daerah terpencil.

Peluncuran RSA Nusa Waluya I dihadiri langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Bapak Drs. H. M. Jusuf Kalla beserta isteri dan
 pendiri doctorSHARE, dr. Lie Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV.
RSA Nusa Waluya I merupakan persembahan doctorSHARE dan Yayasan EKADHARMA dalam mewujudkan Indonesia Sehat. (***)


Profil RSA Nusa Waluya I

Nama Kapal                                       :  Nusa Waluya I
Pemilik                                                 :  Yayasan EKADHARMA
Panjang Kapal                                     :  42   meter
Lebar Kapal                                         :  6,5 meter
Draft Kapal                                           :  2,5 meter
Tonase Kotor (GT)                           :  210 ton
Tonase Bersih (NT)                           :  63 ton
Tahun Pembangunan                     :  1977
Penggerak Utama                             :  Mesin
Mesin Induk                                       :  GM Detroit Diesel 2 x 395 PS
Tanda Selar                                         :  GT.210.NO.1844/Ka
Bahan Utama Kapal                         :  Baja
Jumlah Baling-baling                       :  2 buah
Tanki Bahan Bakar Utama             :  11 ton
Tanki Bahan Bakar Cadangan       :  500 liter
Tanki Air                                               :  10 ton



Fasilitas RSA Nusa Waluya I
·         10 tempat tidur pasien
·         Instalasi Gawat Darurat
·         Fasilitas Radiologi
·         EKG (elektrokardiogram)
·         USG (ultrasonografi)
·         Laboratorium
·         Ruang Resusitasi
·         Ruang Konsultasi
·         Fasilitas Bedah Mayor dan Bedah Minor
·         Kamar Perawatan Post-Operasi
·         Poli Gigi
·         Ruang Dokter Pre-Op
·         Ruang Istirahat Dokter
·         Gudang Obat
·         Gudang Logistik
·         Ruang Arsip


Tentang doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli)

doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli) adalah sebuah organisasi kemanusiaan yang bergerak di bidang medis.
doctorSHARE berdiri sejak 19 November 2009 dan memiliki visi “menyelamatkan nyawa dan meringankan penderitaan orang yang
terjebak dalam krisis, sehingga mereka bisa memulihkan kemampuan untuk membangun kembali kehidupan bermasyarakat.”
Program doctorSHARE antara lain adalah Panti Rawat Gizi di Pulau Kei, Maluku Tenggara,
Rumah Sakit Apung, pendampingan/penyuluhan kesehatan, pengobatan umum, bantuan kemanusiaan, dan sebagainya.

informasi
doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli)
Mega Glodok Kemayoran Blok B, No.10
Jl. Angkasa Kav. B-6 Kemayoran Jakarta Pusat 10160 INDONESIA
Telp. +6221 6586 6391
info@doctorshare.org
mail.doctorshare@yahoo.com
http://www.doctorshare.org
facebook
https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765




sumber
http://www.doctorshare.org/en/index.php/news/2015/06/02/6/press-release-the-launching-of-rsa-nusa-waluya-i-june-1st-2015.html

http://www.doctorshare.org/index.php/news/2015/05/31/148/siaran-pers-peluncuran-rsa-nusa-waluya-i-1-juni-2015.html


,

0 komentar:

Dokter Lie Dharmawan dan Rumah Sakit Apung



dr. Lie Dharmawan - Peduli Kaum Miskin



 RIRI NHURI
Artikel kali ini akan membahas tentang Profil dan Biografi Dokter Lie Dharmawan sosok seorang dokter yang mungkin bagi penulis sendiri bisa dikatakan sebagai 'malaikat' bagi kaum miskin. Perjalanan hidupnya sangat menginspirasi dan menarik untuk disimak. Bernama lengkap Dr. Lie Augustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV dengan nama kecil yakni Lie Tek Bie. Beliau lahir di Kota Padang pada tanggal 16 april 1946. Dr. Lie Dharmawan ini terlahir dalam keluarga yang amat miskin dan serba kekurangan. Lie Dharmawan mempunyai saudara berjumlah enam orang, ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggal dunia jadi hanya ibunyalah seorang diri yang hanya tamatan Sekolah Dasar berjuang keras menyekolahkan ketujuh anaknya yang masih sangat kecil termasuk dr. Lie Dharmawan sendiri. Semua perkerjaan ia lakoni demi bertahan hidup dan demi anak-anaknya termasuk mencuci baju, memasak, membuat kue, hingga menjadi pencuci piring.

Kehidupan Lie Dharmawan ketika Kecil
Demi kelangsungan hidup keluarganya, Lie Dharmawan kecil sempat membantu ibunya berjualan kue, ia kagum terhadap perjuangan keras ibunya yang ia anggap tak pernah menyerah dan putus asa dalam menghadapi sesuatu juga sering mengasihi oranm-orang miskin di sekitarnya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ibunya mempunyai filosofi seperti itu. Tekad Lie Dharmawan untuk menjadi dokter datang ketika ia melihat masyarakat disekitarnya sulit untuk pergi ke dokter di rumah sakit yang disebabkan karena faktor kemiskinan. Hal ini kemudian menyebabkan masyarakat terpaksa untuk pergi berobat ke dukun karena biayanya yang murah dan juga sebagai alternatif pengobatan. Sebab lain mengapa Lie Dharmawan ingin menjadi dokter karena ia melihat sendiri adiknya meninggal karena penyakit diare aku dan telambat ditangani oleh dokter. kedua hal itulah yang membuat lie darmawan bertekad kuat untuk menjadi dokter. Namun apadaya ketika di sekolah ia menyampaikan cita-citanya ingin menjadi dokter, ia hanya mendapatkan tertawaan dari teman temannya seisi kelas, disebabkan karena ia miskin sehingga tidak bisa masuk ke jurusan kedokteran. Namun kelak, ia benar benar membuktikan cita citanya itu.

Jalan Panjang Menjadi Seorang Dokter
Lie Dharmawan pun sadar bahwa cita citanya untuk menjadi dokter bisa dikatakan sangat berat, namun seberapa berat masalah jika dengan tekad kuat dan kerja keras pasti akan tercapai karena yang namanya kerja keras tak pernah menghianati pengorbanan, selalu ada hasil manis dari pengorbanan itu. Selain belajar dengan keras, setiap pukul enam pagi hari, ia selalu pergi ke gereja yang berada didekat sekolahnya dan kemudian berdoa dengan doa yang sama yang selalu ia ulang-ulang selama bertahun-tahun.
 "Tuhan, aku mau jadi dokter yang kuliah di Jerman"
Di tahun 1965, Lie Dharmawan kemudian lulus SMA dengan prestasi yang cemerlang, berkali-kali ia mendaftar di fakultas kedokteran yang ada dipulau Jawa namun ia tidak pernah diterima. Kesempatan kuliah akhirnya ada ketika ia diterima masuk di fakultas Kodekteran di Universitas Res Publica (URECA) dimana universitas ini didirikan oleh para petinggi organisasi Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia tahun 1958 namun baru bebrapa hari kuliah, kampusnya dibakar oleh massa. Akhirnya ia tidak dapat melanjutkan kuliuahnya, dan Lie Dharmawan kemudian memutuskan untuk menjadi pekerja serabutan untuk mengupulkan uangnya membeli tiket ke Jerman untuk melanjutkan cita-citanya.

Kuliah Kedokteran DI Jerman
Di usianya yang ke 21 tahun, Lie Dharmawan pun mendaftarkan diri ke sekolah kedokteran di Berlin Barat, Jerman namun tanpa dukungan beasiswa. Dengan tekad yang kuat ia akhirnya diteriman di fakultas Kedokteran Free University, Berlin Barat. Dan untuk memenuhi biaya kuliah dan kehidupan sehari-harinya, Lie Dharmawan kemudian
bekerja sebagai kuli bongkar muat barang. pada kesempatan lain, Lie juga bekerja di sebuah panti jompo yang salah satu tugasnya adalah membersihkan kotoran orang tua berusia 80 tahunan.

Lie Dharmawan tetap berprestasi sekalipun sibuk bekerja, sehingga ia mendapat beasiswa, itu semua ia gunakan untuk biaya sekolah adik-adiknya. Tahun 1974, Lie berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar M.D. (Medical Doctor). Empat tahun setelahnya, Lie sukses menyandang gelar Ph.D. Melalui perjuangan tanpa kenal lelah selama sepuluh tahun, Lie akhirnya lulus dengan membanggakan diaman ia lulus empat spesialisasi yakni ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Cita cita semasa kecilnya akhirnya tercapai.



dr. Lie Dharmawan Kembali Ke Indonesia
Selama enam bulan Lie di Semarang kemudian ke RS Rajawali, Bandung. Tahun 1988, Lie berkarir di RS Husada, Jakarta hingga saat ini. Kegiatan sosial pertama Lie sebagai seorang dokter bedah di Indonesia dilakukan saat mengoperasi secara cuma-cuma seorang pembantu rumah tangga tahun 1988. Selanjutnya, Lie juga terus mengupayakan bedah jantung terbuka (bedah di mana jantung dihentikan dari pekerjaannya untuk dibuka untuk diperbaiki). Bedah semacam ini melawan arus karena butuh peralatan yang lebih canggih dan mahal, namun harus dilakukan dalam operasi skala besar. Tahun 1992, Lie akhirnya sukses melangsungkan bedah jantung terbuka untuk pertama kalinya di rumah sakit swasta di Jakarta.

Mendirikan yayasan DoctorSHARE dan Rumah Sakit Apung
Jangankan berobat, jika makan sehari-hari pun sulit. Kesadaran ini menerpa batin Lie begitu kuat hingga akhirnya bersama Lisa Suroso (yang juga aktivis Mei 1998) mendirikan sebuah organisasi nirlaba di bidang kemanusiaan dengan nama doctorSHARE atau Yayasan Dokter Peduli—sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan. DoctorSHARE bekerja didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan dan etika medis. DoctorSHARE memberikan pelayanan medis secara cuma-cuma di berbagai wilayah Indonesia. Selain pengobatan umum di berbagai sudut Indonesia, program awal DoctorSHARE adalah pendirian Panti Rawat Gizi) di Pulau Kei, Maluku Tenggara.

Dr Lie Darmawan tidak pernah lupa kata-kata Ibunya sejak kecil yang ia pegang terus sampai ia berhasil menjadi dokter dengan keahlian empat spesialis bedah.
 "Lie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras".

Inspirasi ini melekat kuat dalam benak Lie. Bersama DoctorSHARE, Lie mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) Swasta, yang diberi nama KM RSA DR. LIE DHARMAWAN. Pelayanan medis dalam RSA dilakukan dengan cuma-cuma. Dari koceknya, ia mewujudkan mimpi yang muskil, membangun rumah sakit apung. Kemudian berlayarlah Lie Dharmawan mengunjungi pulau-pulau kecil di Nusantara, mengobati ribuan warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis. Tujuan didirikannya RSA ini adalah untuk melayani masyarakat yang selama ini kesulitan mendapat bantuan medis dengan segera karena kendala geografis dan finansial, terutama untuk kondisi darurat, khususnya bagi masyarakat prasejahtera yang tersebar di kepulauan di Indonesia. Rumah Sakit Apung milik dr. Lie hanyalah sebuah kapal sederhana yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya disekat-sekat menjadi bilik-bilik yang diperuntukkan untuk merawat pasien-pasien inap ataupun pasien-pasien pasca operasi. Sehingga dr. Lie dianggap sebagai dokter gila, karena keberaniannya menggunakan kapal kayu mengarungi pelosok negeri ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu tetapi memerlukan pelayanan kesehatan segera.

Itulah sekilas biografi singkat mengenai dr. Lie Dharmawan, semoga dengan membaca biografi dr. Lie Dharmawan para pembaca Biografiku.com sekalian dapat memperoleh inspirasi atau informasi yang bermanfaat.

informasi
doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli)
Mega Glodok Kemayoran Blok B, No.10
Jl. Angkasa Kav. B-6 Kemayoran Jakarta Pusat 10160 INDONESIA
Telp. +6221 6586 6391
info@doctorshare.org
mail.doctorshare@yahoo.com
http://www.doctorshare.org
facebook
https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765



sumber

http://www.biografiku.com/2014/09/biografi-dr-lie-darmawan-dokter-gila.html?m=1

http://www.doctorshare.org

https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765

,


0 komentar: