Feature news

Tampilkan postingan dengan label dokter. Tampilkan semua postingan

Pelayanan Medis dengan RSA Nusa Waluya I di Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi




Pelayanan Medis dengan RSA Nusa Waluya I di Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi (15 – 18 September 2016)
22 September 2016
Oleh: Abdul Basith Bardan

15 – 18 September 2016, tim doctorSHARE melangsungkan pelayanan medis di Muara Sabak Timur, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi. RSA Nusa Waluya I sandar di Dermaga Polisi Perairan (Polair) Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kehadiran doctorSHARE di Jambi ini merupakan kali ketiga setelah pelayanan medis pada 2014 dan 2015.

Dalam pelayanan medis kali ini, doctorSHARE bekerjasama dengan Direktorat Polisi Perairan (Ditpolair) Polda Jambi, Direktorat Polisi Lalu Lintas (Dirpolantas) Polda Jambi, Bidang Dokter dan Kesehatan (Biddokkes) Polda Jambi, dan Bhayangkari Polda Jambi. Berbagai macam kegiatan medis dilaksanakan selama tim doctorSHARE berada disana, mulai dari pengobatan umum hingga bedah.

15 September 2016, tim doctorSHARE melangsungkan pemeriksaan USG (ultrasonografi). Tim juga melangsungkan pengobatan umum yang diikuti oleh 192 warga Muara Sabak Timur. Jenis penyakit yang banyak diderita masyarakat adalah hipertensi (darah tinggi) dan gangguan lambung.

Ada tiga puskesmas di Muara Sabak Timur yang melayani 12 desa dan kelurahan. Juga terdapat Puskesmas Pembantu di setiap desa. Hanya saja peralatan dan jumlah tenaga dokter yang tersedia belum dapat melayani bedah mayor dan minor.

Masyarakat Muara Sabak Timur terlihat antusias menghampiri RSA Nusa Waluya I yang menjadi lokasi berlangsungnya pelayanan medis. Warga datang menggunakan berbagai macam alat transportasi. Dinas Perhubungan turut menyediakan perahu bermesin.

Pelaksanaan bedah minor di Muara Sabak Timur mencatat rekor total pasien terbanyak dalam sejarah bedah minor yang pernah dilakukan tim doctorSHARE. Sebanyak 183 pasien ditangani oleh tim doctorSHARE, dibantu oleh Biddokkes Polda Jambi.

dr. Meidy Regianto selaku koordinator bedah minor menjelaskan, 113 pasien disunat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. 70 pasien lainnya dibedah karena terdapat benjolan di tubuhnya. Jenis kasus bedah minor terbanyak selain sunat adalah lipoma. Adapun bedah mayor diikuti 21 pasien dengan 23 kasus. Kasus terbanyak adalah hernia dan beberapa pasien di antaranya merupakan anak-anak.

Lonjakan jumlah membuat RSA Nusa Waluya I tidak lagi dapat menampung seluruh pasien. Pasien bedah mayor pun dirawat di beberapa tempat. Ada pasien yang dirawat di RSA Nusa Waluya I, adapula yang dibawa ke Puskesmas terdekat. Selain itu, beberapa pasien dirawat di Kantor Kepolisian Perairan Kabupaten Tanjung Jabung Timur yang dijadikan sebagai ruang rawat inap.

“Jumlah pasien bedah minor di Muara Sabak Timur melebihi target, tetapi dapat teratasi dengan bantuan tenaga medis dari Dokkes Polda Jambi, Bhayangkari, Puskesmas, serta bantuan alat dari dinas setempat,” jelas dr. Chris Hally Santoso selaku koordinator doctorSHARE untuk pelayanan medis di Muara Sabak.

Selain kegiatan pemeriksaan kesehatan dan bedah, tim doctorSHARE juga melakukan penyuluhan mengenai Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) pada 16 September 2016. Penyuluhan yang berlangsung di Gedung Nasional ini dihadiri sekitar 300 siswa SD, SMP, dan SMA Muara Sabak Timur.

“Syukurlah seluruh rangkaian kegiatan dapat lancar terlaksana. Semoga pada tahun-tahun mendatang tim doctorSHARE dapat menggelar kegiatan serupa di Provinsi Jambi,” ujar Direktur Ditpolair Kepolisian Daerah Jambi, Komisaris Besar Polisi Drs. Yosi Muhamartha.


Profil RSA (Rumah Sakit Apung)




sumber

http://www.doctorshare.org/index.php/news/2016/09/22/273/pelayanan-medis-dengan-rsa-nusa-waluya-i-di-muara-sabak-timur-kabupaten-tanjung-jabung-timur-jambi-15-18-september-2016.html

https://www.youtube.com/channel/UCdA8X8KDPaBcWVQ91_WEEtA



Continue Reading »

Mulai Tahun 2016 Ini, Unpad Gratiskan Biaya Kuliah Sarjana Kedokteran dan Dokter Spesialis




Mulai penerimaan mahasiswa baru tahun 2016 ini, 
Universitas Padjadjaran akan menggratiskan biaya pendidikan mahasiswa baru program 
studi Sarjana Pendidikan Dokter dan Pendidikan Dokter Spesialis di Fakultas Kedokteran. 
Kebijakan ini diambil antara lain untuk memenuhi kebutuhan tenaga dokter dan dokter spesialis di berbagai daerah, khususnya di Jawa Barat.

“Kenyataannya, daerah-daerah itu memerlukan tenaga, jadi mereka siap untuk bisa 
memberikan biaya pendidikannya,” ujar Rektor Unpad, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad, 
saat menggelar jumpa pers di Ruang Executive Lounge Unpad, Jln. Dipati Ukur No. 35, Bandung, Senin (25/01).

Dalam jumpa pers tersebut, Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan Unpad, Dr. Arry Bainus, M.A., 
Direktur Pendidikan Unpad, Prof. Dr. Budi Setiabudiawan, dr., Sp.A-K., M.Kes., 
Dekan Fakultas Kedokteran Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., MSi., Sp.F., DFM, serta 
Direktur Tata Kelola dan Komunikasi Publik Unpad, Dr. Soni A. Nulhaqim, S.Sos., M.Si.

Lebih lanjut Rektor mengatakan, kondisi ketersediaan tenaga dokter dan dokter spesialis di Jawa Barat tidak merata. 
Kebanyakan tenaga dokter dan dokter spesialis masih terpusat di kota besar. Menyadari hal tersebut, 
Unpad berkomitmen membantu mendistribusikan tenaga dokter dan dokter spesialis ke seluruh wilayah di Jawa Barat. 
Meski demikian, tidak menutup kemungkinan ada pula permintaan dari daerah lainnya di Indonesia.

Pada tahun akademik 2016/2017 ini, FK Unpad akan menerima 250 calon mahasiswa dengan rincian 125 dari 
jalur SNMPTN dan 125 dari jalur SBMPTN. Seluruh mahasiswa yang diterima melalui dua jalur seleksi tersebut akan 
digratiskan biaya kuliahnya melalui beasiswa yang dikeluarkan pemerintah daerah dari 27 Kota/Kabupaten di Jawa Barat maupun 
beasiswa dari berbagai pihak, termasuk instansi swasta.

Meski gratis, ada syarat yang ditetapkan Unpad kepada mahasiswa Pendidikan Dokter dan Dokter Spesialis, yaitu 
ada perjanjian antara calon mahasiswa dengan Unpad. Isi perjanjian kurang lebih menyatakan, 
ketika lulus nanti para dokter yang kuliah gratis ini wajib mengabdi di wilayah/instansi yang ditentukan. 
Jika tidak, Rektor berkomitmen tidak akan mengeluarkan ijazahnya.

“Unpad ingin membangun sikap kesiapan mengabdi sungguh-sungguh kepada masyarakatnya bagi para lulusannya. 
Jika tidak bersedia memenuhi perjanjian itu, jangan pilih kuliah di Kedokteran Unpad. 
Ada banyak perguruan tinggi lain yang juga menyediakan pendidikan kedokteran,” tegas Rektor.

Dekan FK Unpad, Dr. Yoni Fuadah Syukriani, dr., M.Si., Sp.F., DFM., menilai program penggratisan biaya kuliah di FK Unpad ini 
bertujuan untuk menghasilkan lulusan yang benar-benar mencintai masyarakat. “Ini adalah salah satu cara 
memfasilitasi mereka (mahasiswa) sehingga bisa bekerja dengan baik di masyarakat, dan karirnya bisa dibangun,” kata Yoni.*

Laporan oleh: Arief Maulana / eh


Selanjutnya, kata Tri, dokter lulusan kuliah gratis bersedia melanjutkan pendidikan spesialis, yang 
juga gratis di Unpad. Lama kuliahnya adalah 7-9 semester. Kelak, setelah lulus sebagai spesialis, 
masa kerja penempatannya selama 4-5 tahun. “Tidak ada istilah coba-coba untuk ini,” tuturnya.

Pada tahun ajaran baru 2016/2017, Unpad menyediakan 250 kursi mahasiswa baru di Fakultas Kedokteran. 
Seleksinya lewat SNMPTN dan SBMPTN serta afirmasi atau beasiswa dari pemerintah daerah di Jawa Barat. 
“Mahasiswa baru afirmasi per kota atau kabupaten hanya 2 orang di Unpad, tidak khusus ke Kedokteran,” ucapnya.

Adapun kuota dokter spesialis gratis sebanyak 150 orang. Menurut Tri, 
ada 20-an program studi yang bisa dipilih dari tiga jenis spesialis, yakni bedah, medik, dan penunjang. 
Uang kuliahnya per semester yang berlaku saat ini sebesar Rp 15-25 juta per semester. Adapun uang kuliah S-1 maksimal Rp 13 juta per semester.

ANWAR SISWADI


Video bersama Rektor Unpad, Prof. Dr. med. Tri Hanggono Achmad friends




sumber






Continue Reading »

Sony Budianto , Anak Pemulung dari Lamongan Jadi Mahasiswa Kedokteran Undip


Putra Pemulung Ini Raih Beasiswa Bidik Misik Kedokteran. Sony Budianto berkacamata dan bertopi. 

Anak Pemulung dari Lamongan Jadi Mahasiswa Kedokteran Undip
TRIBUNJATENG.COM, SEMARANG - Sony Budianto masih belum percaya bahwa dirinya baru saja resmi menjadi seorang mahasiswa Kedokteran Universitas Diponegoro (Undip) Semarang, setelah diresmikan langsung oleh Rektor Prof Yos Johan Utama dalam upacara Penerimaan Mahasiswa Baru di Stadion Undip, Tembalang, Selasa (25/8/2015).
Pasalnya remaja asal Lamongan itu semula tidak yakin, dirinya yang serba kekurangan dalam hal ekonomi bisa menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran yang terkenal mahal. Sony merupakan putra dari pasangan Sugianto dan Budiyanti.
"Bapak dahulu memang pemulung, sekarang beliau masih bekerja sebagai buruh serabutan, Ibu tinggal di Semarang dan tidak bekerja," jelasnya saat menjawab pertanyaan Tribun Jateng.
Mahasiswa lulusan SMAN 1 Lamongan itu menceritakan awalnya dia pesimis bisa melanjutkan ke jenjang perkuliahan hingga akhirnya dia mendapat informasi dari guru BK tentang apa itu beasiswa bidikmisi.
"Dari situ saya optimis dan langsung melengkapi berkas persyaratan, dan langsung memilih kedokteran karena saya paling suka dengan pelajaran Biologi," jelas peraih nilai 100 di mapel Biologi tersebut.
Impiannya menjadi Dokter juga untuk membantu sesama warga yang kurang beruntung dalam hal Ekonomi untuk mendapat pelayanan kesehatan yang prima.


sumber
http://www.tribunnews.com/regional/2015/08/25/anak-pemulung-dari-lamongan-jadi-mahasiswa-kedokteran-undip



Continue Reading »

Pengalaman Berkekurangan Dan Berkelebihan



6 Juli 2015
Oleh: dr. Lie A. Dharmawan, PhD, FICS, SpB, SpBTKV

23 Juni 2015, kami sampai di Desa Gagemba setelah menempuh jalan darat sejauh 25 kilometer dari Sugapa, ibukota Kabupaten Intan Jaya, Provinsi Papua.

Gagemba adalah sebuah desa yang sangat terpencil, bahkan boleh dikatakan terisolir. Desa ini bahkan belum pernah dikunjungi oleh tenaga kesehatan sejak kemerdekaan Indonesia.

Kami menginap semalam di dalam gereja, di atas bangku-bangku kebaktian umat. Masyarakat Gagemba sudah memberikan yang terbaik dan yang terbaik itu adalah kita tidur di atas bangku gereja yang beralaskan papan dan banner. Masyarakat sendiri tidur di atas honai yang saat itu sedang penuh sesak dengan bara api di dalamnya karena banyak warga desa lain menginap.



Kami melakukan pelayanan medis pada keesokan harinya (24 Juni 2015) di halaman gereja.

Pelayanan yang sudah ditunggu-tunggu sekian puluh tahun lalu oleh masyarakat diungkapkan oleh pendeta gereja. “Doa kita dikabulkan oleh Tuhan pada hari ini.” Ratusan umat berdatangan dari berbagai desa di lereng gunung dan menerima pengobatan dan operasi.

Setelah pelayanan medis selesai pada sore harinya, sekitar pukul 16.45 WIT, saya mengajak anggota kami sendiri, Sylvie Tanaga untuk keluar sebentar melihat keadaan sekeliling. Saudara Junaedi, anggota tim lapangan mau ikut, namun saya menolaknya karena ia sedang berpuasa. Saya tak ingin dia sampai terlambat berbuka.

Perjalanan yang kami rencanakan hanya akan berlangsung belasan menit hingga paling lama 30 menit, ternyata berlanjut menjadi “petualangan” dalam kegelapan dan medan sulit di hutan pegunungan tengah di Papua. Kami menuruni jalan setapak ke arah kiri.

Setelah berjalan kurang lebih 15 menit dan menikmati keindahan alam yang cantik permai, kami berjumpa dengan seorang bapak yang sedang memikul batang pohon. Saya coba mengutarakan bahwa kami tersesat dan meminta panduan pulang.

Bapak ini serta merta menaruh kedua batang pohon yang dipikulnya, lalu mengantar kami menuruni lereng gunung yang terjal, gelap dan licin ke sebuah kampung. Di kampung ini, kami mengunjungi dua honai (rumah) orang Papua asli.

Honai pertama adalah honai untuk perempuan dan honai kedua hanya untuk lelaki. Di dalam kesulitan, ide-ide “genial” (kata sifat dari genius) selalu lahir. Kami berusaha menjelaskan bahwa kami adalah tim dokter yang menginap di gereja dan melakukan pelayanan medis.

Empat orang bapak bersedia mengantar kami ke rumah (honai) bapak pendeta. Ternyata di honai hanya ada adik pendeta dan bersedia mengantar kami ke tujuan.

Naik turun lereng gunung lagi dalam kegelapan, kaki saya mulai protes dan kurang setuju namun perintah dari pikiran waras harus dituruti. Dengan beberapa kali jeda untuk menambah kadar oksigen dalam darah, akhirnya hati saya bersorak ketika mendengar suara teriakan pertama dari lembah yang segera saya sahuti dengan teriakan membahana.

Tidak lama kemudian, tampaklah remang-remang api unggun yang segera menjadi lebih nyata dan anggota-anggota tim yang sama gembiranya karena kami berdua telah selamat kembali.

Ketika saatnya istirahat malam, saya merenungkan peribahasa yang mengatakan bahwa kami tidak dapat membeli segala-galanya.

Batasan kemiskinan yang mendefinisikan bahwa mereka yang tak sanggup membelanjakan 2 dollar AS per hari adalah orang miskin, tidak berlaku bagi kami saat itu. Di kantung saya ada Rp 2.000.000 atau setara 150 dollar AS ternyata tidak dapat membawa kami kembali.

Di saat kami kelelahan, kedinginan, dan was-was akan bagaimanakah caranya kami pulang, terpikirkan betapa enaknya kalau saja kami bisa memesan sebuah taksi atau menyetop bajaj ataupun ojek entah ojek motor ataupun sepeda.

Walaupun punya telepon genggam, tanpa signal kami tak mungkin berkomunikasi dengan siapapun apalagi memesan taksi yang juga tidak tersedia. Jangankan taksi, ojek pun tak ada. Bagaimana menyediakan sarana transportasi, kalau prasarananya pun belum ada.

Pengalaman singkat saya telah menambah kesadaran akan “lingkaran setan” yang dihadapi oleh orang Papua yang hidup di pegunungan. Di titik mana lingkaran ini harus diputus? Tidak mengherankan jika masyarakat menyambut kehadiran kami dengan antusias dan penuh harapan.

* * *

sumber
http://www.doctorshare.org/index.php/news/2015/07/06/152/dr-lie-dharmawan-quot-pengalaman-berkekurangan-dan-berkelebihan-quot.html

https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765?fref=photo



,
Continue Reading »

Dokter Lie Dharmawan dan Rumah Sakit Apung



dr. Lie Dharmawan - Peduli Kaum Miskin



 RIRI NHURI
Artikel kali ini akan membahas tentang Profil dan Biografi Dokter Lie Dharmawan sosok seorang dokter yang mungkin bagi penulis sendiri bisa dikatakan sebagai 'malaikat' bagi kaum miskin. Perjalanan hidupnya sangat menginspirasi dan menarik untuk disimak. Bernama lengkap Dr. Lie Augustinus Dharmawan, Ph.D, Sp.B, Sp.BTKV dengan nama kecil yakni Lie Tek Bie. Beliau lahir di Kota Padang pada tanggal 16 april 1946. Dr. Lie Dharmawan ini terlahir dalam keluarga yang amat miskin dan serba kekurangan. Lie Dharmawan mempunyai saudara berjumlah enam orang, ketika ia berumur sepuluh tahun, ayahnya meninggal dunia jadi hanya ibunyalah seorang diri yang hanya tamatan Sekolah Dasar berjuang keras menyekolahkan ketujuh anaknya yang masih sangat kecil termasuk dr. Lie Dharmawan sendiri. Semua perkerjaan ia lakoni demi bertahan hidup dan demi anak-anaknya termasuk mencuci baju, memasak, membuat kue, hingga menjadi pencuci piring.

Kehidupan Lie Dharmawan ketika Kecil
Demi kelangsungan hidup keluarganya, Lie Dharmawan kecil sempat membantu ibunya berjualan kue, ia kagum terhadap perjuangan keras ibunya yang ia anggap tak pernah menyerah dan putus asa dalam menghadapi sesuatu juga sering mengasihi oranm-orang miskin di sekitarnya. Ia sendiri tidak mengerti kenapa ibunya mempunyai filosofi seperti itu. Tekad Lie Dharmawan untuk menjadi dokter datang ketika ia melihat masyarakat disekitarnya sulit untuk pergi ke dokter di rumah sakit yang disebabkan karena faktor kemiskinan. Hal ini kemudian menyebabkan masyarakat terpaksa untuk pergi berobat ke dukun karena biayanya yang murah dan juga sebagai alternatif pengobatan. Sebab lain mengapa Lie Dharmawan ingin menjadi dokter karena ia melihat sendiri adiknya meninggal karena penyakit diare aku dan telambat ditangani oleh dokter. kedua hal itulah yang membuat lie darmawan bertekad kuat untuk menjadi dokter. Namun apadaya ketika di sekolah ia menyampaikan cita-citanya ingin menjadi dokter, ia hanya mendapatkan tertawaan dari teman temannya seisi kelas, disebabkan karena ia miskin sehingga tidak bisa masuk ke jurusan kedokteran. Namun kelak, ia benar benar membuktikan cita citanya itu.

Jalan Panjang Menjadi Seorang Dokter
Lie Dharmawan pun sadar bahwa cita citanya untuk menjadi dokter bisa dikatakan sangat berat, namun seberapa berat masalah jika dengan tekad kuat dan kerja keras pasti akan tercapai karena yang namanya kerja keras tak pernah menghianati pengorbanan, selalu ada hasil manis dari pengorbanan itu. Selain belajar dengan keras, setiap pukul enam pagi hari, ia selalu pergi ke gereja yang berada didekat sekolahnya dan kemudian berdoa dengan doa yang sama yang selalu ia ulang-ulang selama bertahun-tahun.
 "Tuhan, aku mau jadi dokter yang kuliah di Jerman"
Di tahun 1965, Lie Dharmawan kemudian lulus SMA dengan prestasi yang cemerlang, berkali-kali ia mendaftar di fakultas kedokteran yang ada dipulau Jawa namun ia tidak pernah diterima. Kesempatan kuliah akhirnya ada ketika ia diterima masuk di fakultas Kodekteran di Universitas Res Publica (URECA) dimana universitas ini didirikan oleh para petinggi organisasi Badan Permusjawaratan Kewarganegaraan Indonesia tahun 1958 namun baru bebrapa hari kuliah, kampusnya dibakar oleh massa. Akhirnya ia tidak dapat melanjutkan kuliuahnya, dan Lie Dharmawan kemudian memutuskan untuk menjadi pekerja serabutan untuk mengupulkan uangnya membeli tiket ke Jerman untuk melanjutkan cita-citanya.

Kuliah Kedokteran DI Jerman
Di usianya yang ke 21 tahun, Lie Dharmawan pun mendaftarkan diri ke sekolah kedokteran di Berlin Barat, Jerman namun tanpa dukungan beasiswa. Dengan tekad yang kuat ia akhirnya diteriman di fakultas Kedokteran Free University, Berlin Barat. Dan untuk memenuhi biaya kuliah dan kehidupan sehari-harinya, Lie Dharmawan kemudian
bekerja sebagai kuli bongkar muat barang. pada kesempatan lain, Lie juga bekerja di sebuah panti jompo yang salah satu tugasnya adalah membersihkan kotoran orang tua berusia 80 tahunan.

Lie Dharmawan tetap berprestasi sekalipun sibuk bekerja, sehingga ia mendapat beasiswa, itu semua ia gunakan untuk biaya sekolah adik-adiknya. Tahun 1974, Lie berhasil menyelesaikan pendidikannya dan mendapat gelar M.D. (Medical Doctor). Empat tahun setelahnya, Lie sukses menyandang gelar Ph.D. Melalui perjuangan tanpa kenal lelah selama sepuluh tahun, Lie akhirnya lulus dengan membanggakan diaman ia lulus empat spesialisasi yakni ahli bedah umum, ahli bedah toraks, ahli bedah jantung dan ahli bedah pembuluh darah. Cita cita semasa kecilnya akhirnya tercapai.



dr. Lie Dharmawan Kembali Ke Indonesia
Selama enam bulan Lie di Semarang kemudian ke RS Rajawali, Bandung. Tahun 1988, Lie berkarir di RS Husada, Jakarta hingga saat ini. Kegiatan sosial pertama Lie sebagai seorang dokter bedah di Indonesia dilakukan saat mengoperasi secara cuma-cuma seorang pembantu rumah tangga tahun 1988. Selanjutnya, Lie juga terus mengupayakan bedah jantung terbuka (bedah di mana jantung dihentikan dari pekerjaannya untuk dibuka untuk diperbaiki). Bedah semacam ini melawan arus karena butuh peralatan yang lebih canggih dan mahal, namun harus dilakukan dalam operasi skala besar. Tahun 1992, Lie akhirnya sukses melangsungkan bedah jantung terbuka untuk pertama kalinya di rumah sakit swasta di Jakarta.

Mendirikan yayasan DoctorSHARE dan Rumah Sakit Apung
Jangankan berobat, jika makan sehari-hari pun sulit. Kesadaran ini menerpa batin Lie begitu kuat hingga akhirnya bersama Lisa Suroso (yang juga aktivis Mei 1998) mendirikan sebuah organisasi nirlaba di bidang kemanusiaan dengan nama doctorSHARE atau Yayasan Dokter Peduli—sebuah organisasi kemanusiaan nirlaba yang memfokuskan diri pada pelayanan kesehatan medis dan bantuan kemanusiaan. DoctorSHARE bekerja didasarkan pada prinsip-prinsip kemanusiaan dan etika medis. DoctorSHARE memberikan pelayanan medis secara cuma-cuma di berbagai wilayah Indonesia. Selain pengobatan umum di berbagai sudut Indonesia, program awal DoctorSHARE adalah pendirian Panti Rawat Gizi) di Pulau Kei, Maluku Tenggara.

Dr Lie Darmawan tidak pernah lupa kata-kata Ibunya sejak kecil yang ia pegang terus sampai ia berhasil menjadi dokter dengan keahlian empat spesialis bedah.
 "Lie, kalau kamu jadi dokter, jangan memeras orang kecil atau orang miskin. Mungkin mereka akan membayar kamu berapapun tetapi diam-diam mereka menangis di rumah karena tidak punya uang untuk membeli beras".

Inspirasi ini melekat kuat dalam benak Lie. Bersama DoctorSHARE, Lie mendirikan Rumah Sakit Apung (RSA) Swasta, yang diberi nama KM RSA DR. LIE DHARMAWAN. Pelayanan medis dalam RSA dilakukan dengan cuma-cuma. Dari koceknya, ia mewujudkan mimpi yang muskil, membangun rumah sakit apung. Kemudian berlayarlah Lie Dharmawan mengunjungi pulau-pulau kecil di Nusantara, mengobati ribuan warga miskin yang tak memiliki akses pada pelayanan medis. Tujuan didirikannya RSA ini adalah untuk melayani masyarakat yang selama ini kesulitan mendapat bantuan medis dengan segera karena kendala geografis dan finansial, terutama untuk kondisi darurat, khususnya bagi masyarakat prasejahtera yang tersebar di kepulauan di Indonesia. Rumah Sakit Apung milik dr. Lie hanyalah sebuah kapal sederhana yang terbuat dari kayu, yang di dalamnya disekat-sekat menjadi bilik-bilik yang diperuntukkan untuk merawat pasien-pasien inap ataupun pasien-pasien pasca operasi. Sehingga dr. Lie dianggap sebagai dokter gila, karena keberaniannya menggunakan kapal kayu mengarungi pelosok negeri ini untuk membantu saudara-saudara kita yang kurang mampu tetapi memerlukan pelayanan kesehatan segera.

Itulah sekilas biografi singkat mengenai dr. Lie Dharmawan, semoga dengan membaca biografi dr. Lie Dharmawan para pembaca Biografiku.com sekalian dapat memperoleh inspirasi atau informasi yang bermanfaat.

informasi
doctorSHARE (Yayasan Dokter Peduli)
Mega Glodok Kemayoran Blok B, No.10
Jl. Angkasa Kav. B-6 Kemayoran Jakarta Pusat 10160 INDONESIA
Telp. +6221 6586 6391
info@doctorshare.org
mail.doctorshare@yahoo.com
http://www.doctorshare.org
facebook
https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765



sumber

http://www.biografiku.com/2014/09/biografi-dr-lie-darmawan-dokter-gila.html?m=1

http://www.doctorshare.org

https://www.facebook.com/pages/DoctorSHARE/45642072765

,


Continue Reading »